Menghadapi keluarga yang sulit di nasehati

Manusia setelah terlahir tidak bisa terlepas dari lingkungan keluarga, karena lingkungan keluarga dapat membentuk sosok muslim sejati maupun sebaliknya, dalam keluarga juga terdapat juga orang-orang yang bisa menjadi suri tauladan sehingga dapat membimbing ke jalan allah, meskipun di dalam keluarga juga terdapat musuh yang bisa menyesatkan kita dari jalan allah, misalkan musuh berwatak syetan dalam bentuk manusia, trus bagaimana sikap kita jika di dalam keluarga terdapat musuh yang seperti itu , inilah salah satu sikap kita yang bisa dikerjakan agar musuh tersebut tidak lagi mengganggu kita .

Yang pertama adalah besikap afwun.
Afwun secara etimologis berarti hilang dan terhapus; pemaafan. Istilah ini dalam fikih dibahas sehubungan dengan persolan hukuman atas tindak pidana pembunuhan. Ulama merumuskan definisi afwun berbeda-beda. Mazhab Hanafi dan Maliki mendefinisikannya sebagai melepaskan hak kisas (pembunuhan) terhadap pembunuh tanpa imbalan.

Menurut mereka, berdasarkan definisi ini, ahli waris korban pembunuhan hanya memiliki salah satu di antara dua hak, yaitu hak menuntut pelaksanaan kisas terhadap pembunuh atau memaafkannya tanpa menerima diyat (denda). Pembayaran diyat tergantung pada persetujuan dari pelaku pembunuhan. Namun, jika pelaku pembunuhan tidak rela membayarnya, ahli waris tidak berhak menuntutnya.

Sementara menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali, definisi afwun adalah melepaskan hak kisas dengan menerima diyat. Definisi ini memberikan pengertian bahwa ahli waris berhak memilih di antara dua hak, yaitu menuntut penerapan kisas atau memaafkannya dengan menerima diyat, baik dengan persetujuan pelaku pembunuhan maupun tidak.

Dalam hukum Islam, afwun (pemaafan) lebih ditutamakan daripada pelaksanaan kisas berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah Nabi SAW. Dalil dari Alquran adalah, “…Barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat…” (QS. Al-Baqarah: 178).

‘Afuw adalah hak Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, lalu menghapusnya dari buku catatan amal kita selama di dunia. Seolah-olah, kita tidak pernah melakukan dosa-dosa tersebut. ‘Afuw adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang lalu dosa-dosa tersebut akan dihapus secara total dari rapor kita, dan Allah tidak akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut di Hari Pembalasan

Itulah kenapa Rasulullah (ﷺ) memerintahkan kita untuk membaca dosa berikut di malam Laylatul Qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

(Ya Allah, Engkaulah Satu-satunya yang Maha Pengampun, dan Engkau suka memberi ampunan. Maka dari itu, ampunilah aku), (HR Ahmad, Ibn Majah, dan Tirmidhi)

Jadi, pastikan kita senantiasa membaca doa tersebut sepanjang waktu, sebanyak mungkin. Jadikan ia sebagai zikir harian kita.

Bayangkan bahwa diri kita sedang berdiri di Hari Pembalasan, dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kita, dan kita tidak memiliki jaminan untuk memasuki Jannah-Nya.

Tiba-tiba, kita mendapati bahwa kita memiliki bergunung-gunung Hasanat (pahala) di dalam rapor kita. Tahukah kita dari mana pahala yang begitu banyak tadi datang?

Karena ketika di Dunia, kita terus-menerus mengucapkan, “SubhanAllah wa bihamdihi, SubhanAllah al ‘Adhim.”

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lidah, tetapi berat timbangannya. Keduanya begitu disukai oleh Arrahman (Maha Pengasih) :

سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ

SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi ‘l-`adheem

(Mahasuci Allah, dengan segala pujian dan kesucian hanya teruntuk bagiNya, Yang Mahabesar), (HR Bukhari, Muslim).

Dalil dari sunah Nabi SAW berdasarkan keterangan Imam Malik, “Tidak ada perkara yang menyebabkan kisas yang disampaikan kepada Rasulullah melainkan ia memerintahkan agar memaafkannya (afwun).” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dan sabda Nabi SAW, “Tidaklah seseorang memaafkan suatu kelaliman (orang terhadapnya) melainkan Allah menambahkan baginya dengan kemaafan yang diberikannya itu suatu kemuliaan.” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi jika orang-orang di sekitar kita menyakiti kita maka kit aharus bersikap afwun (pemaafan),  Masih ingatkah kita akan kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang pada suatu hari bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya?

Begitu berat kenyataan itu bagi beliau karena Misthah bin Atsatsah telah ikut menyebarkan berita bohong tentang putri beliau yaitu siti Aisyah. Tetapi Allah yang maha Rahman melarang sikap Abu Bakar tersebut, sehingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan mem beri (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berla pang dada. Apakah ka mu tidak ingin agar Allah meng ampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar melakukan sebuah hal mulia kepada orang yang pernah berbuat dosa kepada diri kita, yaitu memaafkan.Dan sebuah kemaafan masih belum sempurna ketika masih tersisa ganjalan, apalagi dendam yang membara didalam hati kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amal yang baik untuk mendapat) keampunan daripada Tuhan kamu, dan mendapat syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang yang bertakwa.” (Surah Ali Imran, ayat 133-134)

Ayat itu membuktikan bahawa orang yang menahan kemarahannya, termasuk dalam golongan Muttaqin iaitu orang yang bertakwa kepada Allah. Tambahan pula Allah akan memberikan pengampunan kepada mereka, lalu menyediakan mereka balasan syurga. Alangkah besar dan hebatnya ganjaran bagi manusia pemaaf.

Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama Muslim dan lapang dada terhadap kesalahan orang merupakan amal shaleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah Azza wa Jalla yang bertakwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya.

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khsusus menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah Azza wa Jalla dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)

Arti bertambahnya kemuliaan orang yang pemaaf di dunia adalah dengan dia dimuliakan dan diagungkan di hati manusian karena sifatnya yang mudah memaafkan orang lain, sedangkan di akhirat dengan besarnya ganjaran pahala dan keutamaan di sisi Allah Azza wa Jalla.

Yang kedua adalah Maghfirah

Maghfirah adalah hak Allah untuk mengampuni kita atas segala dosa-dosa kita (dosa kecil, karena dosa besar hanya diampuni dengan taubat -red), tetapi dosa-dosa tersebut akan tetap tercatat di dalam buku amalan kita selama di dunia. Maghfirah adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi di Hari Pembalasan kelak, dosa-dosa tersebut tetap tertulis di dalam rapor kita. Allah akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut, tetapi Allah tidak akan menghukum kita karenanya

makna “Maghfirah” (pengampunan): menutupi. Juga kaitannya dengan makna “Al-‘Afwu”, yakni mengambil lalu menutupi. Makna inilah yang nampak dalam firman Allah swt:

“Maafkan kami dan ampuni kami.” (Al-Baqarah: 286). Yakni, ambillah dosa kami dan tutupi dosa kami.

Dengan makna ini juga menjadi jelas, walaupun nampak berbeda makna keduanya secara konsep, bahwa keduanya memiliki makna yang sama secara ekstensial (mishdaq) dari sisi Allah dan dari sisi hamba-Nya. Seperti yang dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya;

إِلا أَن يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَا الَّذِى بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكاح

“Kecuali jika isteri-isterimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah.” (Al-Baqarah: 237)

قُل لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِى قَوْمَا بِمَا كانُوا يَكْسِبُونَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Jatsiyah: 14)

فَاعْف عَنهُمْ وَ استَغْفِرْ لَهُمْ وَ شاوِرْهُمْ فى الأَمْرِ

“Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali-Imran: 159)

Kemudian Rasulullah saw memerintahkan agar memaafkan mereka sehingga hilanglah bekas-bekas dosanya, dan selamatlah dari siksaan; beliau juga memerintahkan agar memohon ampunan Allah untuk mereka agar Allah mengampuni dosanya.

Selain makna itu Al-‘afwu dan maghfirah memiliki makna yang berkaitan sekaligus antara dosa takwini dan dosa tasyri’i, dosa duniawi dan dosa ukhrawi, seperti yang dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَمَا أَصبَكم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسبَت أَيْدِيكمْ وَ يَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Tidak ada satu pun musibah yang menimpa kamu kecuali disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

وَالْمَلَئكَةُ يُسبِّحُونَ بحَمْدِ رَبهِمْ وَ يَستَغْفِرُونَ لِمَن فى الأَرْضِ

“Para malaikat bertasbih dengan memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang ada di bumi.” (Asy-Syura: 5)

رَبَّنَا ظلَمْنَا أَنفُسنَا وَ إِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَ تَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَسرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23). Kezaliman nabi Adam (as) dan isterinya, maksudnya adalah mereka melanggar larangan Allah yang bersifat bimbingan bukan yang bersifat tasyri’i.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menunjukan bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah dan memperoleh nikmat surga karena sebelumnya dosa-dosanya diampuni oleh Allah, noda-noda kemusyrikannya dilangkan, dan bertaubat kepada-Nya dengan taubat nashuha. Allah swt berfirman:

كلا بَلْ رَانَ عَلى قُلُوبهِم مَّا كانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

مَا أَصاب مِن مُّصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun: 11)

Kesimpulannya, Allah menyatakan bahwa keimanan dan kampung akhirat sebagai kehidupan, pengaruh-pengaruh keimanan dan perbutan-perbuatan ahli akhirat serta perjalanan hidup mereka sebagai cahaya. Ini dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

أَ وَمَن كانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَهُ وَ جَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشى بِهِ فى النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فى الظلُمَتِ لَيْس بخَارِجٍ مِّنهَا

“Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (Al-An’am: 122)

وَ إِنَّ الدَّارَ الاَخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ

“Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan.”(Al-‘Ankabut: 64)

أَوْ كَظلُمَتٍ فى بحْرٍ لُّجِّىّ‏ٍ يَغْشاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سحَابٌ ظلُمَت بَعْضهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”(An-Nur: 40)

Dengan kandungan makna ayat-ayat tersebut, maka “maghfirah” bermakna menghilangkan kematian dan kegelapan dengan kehidupan yaitu keimanan dan cahaya sebagai rahmat Allah swt. Musuh kita berupa syetan  tidak mempunyai kehidupan dan cahaya, orang mukmin yang diampuni dosanya memiliki kehidupan dan cahaya. Adapun seorang mukmin masih memiliki keburukan, ia memiliki kehidupan tapi cahayanya tidak sempurna. Untuk menyempurnakan cahanya tidak ada cara lain kecuali dengan maghfirah. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt:

نُورُهُمْ يَسعَى بَينَ أَيْدِيهِمْ وَ بِأَيْمَنهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَ اغْفِرْ لَنَا

“Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami.” (At-Tahrim: 8)

Dari penjelasan-penjelasan tersebut jelaslah bahwa ekstensi (mishdaq) “Al-‘Afwu” dan “Al-Maghfirah” jika dinisbatkan kepada Allah swt dalam perkara-perkara takwiniyah bermakna menghilangkan penghalang dengan keinginan terhadap suatu penyebab yang dapat menghilangkannya. Adapun dalam perkara-perara tasyri’iyah bermakna menghilangkan penyebab yang menghalangi datangnya rahmat dan kasih sayang Allah swt. Dalam hal kebahagiaan dan kesengsaraan bermakna menghilangkan penghalang datangnya kebahagiaan.

Jadi kita bertemu musuh yang seperti itu maka yang harus kita lakukan adalah  memaafkan, melupakan dan meminta ampunan kepada allah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s