Plus Minus (±)

Pada bulan awal bulan Juni Keponakanku menelponku karena mengabarkan bahwa dia akan pulang ke Indosesia sedangkan dia merupakan TKI di Kairo. Dia berpesan jikalau pulang nanti maka harus dijemput lewat bandara Juanda,  pada saat menelpon maka kutanyakan sekalian tentang oleh-oleh apa yang akan di hadiahkan kepadaku dan ternyata jawabanya sudah dibelikan dan tinggal di packingin aja.

Setelah mengobrol ini itu akhirnya saya menginginkan berbicara langsung lewat Video Chating sehingga oleh-oleh yang akan diberikan kepadaku bisa aku lihat langsung lewat Video Chat.  Setelah ditunjukan semua oleh-olehnya kepadaku satu  persatu lewat Video Chat sampai selesai, maka aku termenung sejenak, sehingga terlintas di dalam pikiranku tentang KENAPA  tulisan  Plus-Minus (± ) itu tertera  pada semua bungkus  makanan tanpa kecuali, padahal kalau di Indonesia kok tidak ada tulisan tersebut, trus apakah yang membedakannya, trus  kok produk yang bertuliskan (±) tersebut hampir semuanya merupakan produksi timur tengah (dimana tulisan tersebut menerangkan tentang Berat dari makanan,  contoh;  Netto:  ± 60 gram ).

Yang membuat saya terheran-heran  adalah kenapa Tulisan tersebut tertera pada semua bungkus yang merupakan kategori makanan,  Sedangkan bungkus selain makanan tidak semua tertera tulisan tersebut. Berdasarkan bukti tersebut saya mencoba menganalisis kenapa perbedaan tersebut terjadi.

Alasan pertama yaitu bahwa  asal penulis atau agama penulis tulisan yang  tertera pada Bungkus adalah orang Muslim dari Negara timur tengah, misalnya  IRAN, IRAK, MESIR TURKY dll dimana sebagian besar penduduknya adalah Muslim,  sehingga kusimpulkan bahwa seharusnya tulisan tersebut juga harus tertulis pada bungkus makanan yang Pembuatnya orang Muslim, tetapi kenapa tulisan pada bungkus makanan di Indonesia tidak tertera, padahal Muslimnya Mayoritas.  Berdasarkan alasan ini maka ternyata tingkat persepsi,  tingkat pemahaman dan tingkatan aplikasi hukum islam dalam hal timbang-menimbang terlebih mengenai jual beli sangat berbeda antara Muslim Indonesia dan orang Timur Tengah.

Alasan berikutnya adalah bahwa manusia merupakan tempat salah dan dosa sehingga bisa jadi ketika melakukan perhitungan terlebih dalam penimbangan  seharusnya mereka punya kesadaran akan hal tersebut (sadar akan tempat salah dan dosa), maka seharusnya tulisan tersebut di tulis pada setiap bungkus (tulisan plus-minus) baik untuk kategori makanan maupun barang yang mengandung berat. Alasan kenapa harus ditulis pada bungkus  adalah untuk menghindari salah dan dosa karena tidak mungkin setiap manusia melakukan penimbangan berat maka berat tersebut tidak akan bisa  mutlak/persis/pasti sesuai dengan berat sesungguhnya,dan pasti ada kurang dan lebihnya. Begitu juga  jika dikaitkan dengan keimanan, kita juga seharusnya faham akan  sifat Allah yaitu Yang Maha Pasti itu cuma Allah, Maha Teliti itu cuma Allah dan jika manusia mengaku paling teliti atau paling pasti maka itu sudah merupakan bentuk kekeliruan serta kekufuran, maka keharusan tulisan plus-minus ± wajib tertera pada semua bungkus yang ada hubunganya dengan satuan ukur, baik berat, panjang tinggi, luas, volume, besar, dll.

Alasan berikutnya adalah mesin atau alat yang digunakan itu merupakan buatan manusia dimana sudah merupakan sifat buatan manusia tempat salah dan dosa, jadi peralatanya pun yang di buat oleh manusia pasti mempunyai kesalahan. Contoh saja seperti ini, ketika menulis angka 8,2 gram maka apakah sudah betul berat benda tersebut 8,2 gram, bukankah 8,2 gram itu yang tertulis di alat dan bukan tertulis di bendanya. Terlebih lagi penulisan 8,2 merupakan pembulatan dimana perlakuan pembulatan angka merupakan bentuk pengurangan atau penambahan berat (dimana pembulatan ini merupakan bentuk penipuan dan kebohongan tidak kentara), terlebih pembulatanya adalah 1 digit di belakang angka, belum lagi yang pembulatanya adalah 0 digit dibelakang angka. Padahal seharusnya peralatan timbangan itu tidak perlu dilakukan pembulatan sehingga seharusnya berat yang tertulis pada bungkus serta tertera pada bungkus wajib ditulis sampai komanya tidak terhingga  (contoh;  Netto:  ± 60,0000000000 000000000 gram – sampai tak terhingga). Jadi kesimpulanya adalah jika timbanganya itu melakukan pembulatan maka seharusnya plus-minus juga tertulis di bungkus, sedangkan jika alat timbanganya tidak dibulatkan maka pada bungkus ditulis apa adanya sampai komanya tidak terhingga, itu baru namaya konsekkuen, itu baru namanya transparansi dan jelas tidak ada kebohongan nyata dan penipuan akan tulisan serta arti. Masih ingatkah kita dengan firman allah yang artinya :

kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang[1561], (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(Surat Al-Muthaffifiin:1-3)

[1561] Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Alasan berikutnya adalah bahwa apakah alat dan peralatan yang kita gunakan untuk menimbang itu  sudah kita cek ulang kelayakanya setelah beberapa waktu kita gunakan ke Badan Kemetrologian sebagai wujud akan ketaqwaan kita pada allah sesuai yang tertulis pada “Surat Al-Muthaffifiin “.  atau dengan kata lain  sudahkah alat timbang kita sudah di uji  KELAYAKAN  setiap bulan atau tahun sehingga peluang curang dan penipuan akan semakin berkurang, terlebih seorang manusia pasti melakukan perbuatan salah dan dosa. Belum lagi peralatan timbang merupakan peralatan buatan manusia yang sangat rentan akan kerusakan dan ketidakvalid-an, maka uji Kelayakan Tulisan terhadap berat benda sesungguhnya  sangat diperlukan sekali, terlebih meraka yang berkompetan dibidangnya untuk selalu melakukan keterbukaan dan pengujian kebenaran atau yang memang berwenang dan berhak melakukan pengawasan berat benda khususnya makanan.

Alasan berikutnya adalah bahwa bahan makanan sangan rentan mengalami penuyusutan dan pengembangan malah sering terjadi penyusutan jika makananya adalah berisi banyak kandungan air, karena air bisa menguap sehingga berat dari makanan juga akan menyusut, terlebih lagi jika makanan terkena panas yang memungkinkan terjadi penyusutan sehingga pelung berat berkurang sangat besar. Jadi peluang nilai berat dari makanan ketika pertama kali ditimbang akan sangat berbeda dengan berat makanan ketika sudah melewati beberapa hari ketika sudah dipasarkan ke tempat lainsehingga  kemungkinan mengalami penyusutan maupun pengembangan, untuk itulah sangat diperlukan tulisan PLUS-MINUS   supaya konsumen tidak tertipu oleh produsen atau sebaliknya, setidaknya mendekati kebenaran.

Waspadalah. . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s