MANJAKAH kita, Cuma dzikir saja harus di pandu ?

Pulang dari kerja jam 12 siang membuat sekujur tubuh terasa panas, kulit menjadi pekat terlebih lagi memasuki awal musim penghujan dimana pada siang hari terasa panas menyengat, belum lagi pulang kerja mengendarai sepeda motor yang tak lepas dari polusi dan suhu panas di jalanan, sehingga tubuh terasa terasa lelah, payah , letih karena energi sudah terkuras habis, belum lagi perut sudah kosong dan waktunya makan siang.

Sesampai di rumah kuganti baju setelah itu duduk di tempat tidurku yang menghadap televisi, setelah duduk terlintas dalam benaku ingin sekali ku baringkan tubuhku seakan-akan menginginkan istirahat, kepalaku terasa penuh dengan hawa panas seolah-olah menginginkan rasa kenyamanan akan bantal yang empuk. Belum lagi pikiranku masih kosong, seolah olah tidak ada yang aku pikirkan.

Setelah beberapa saat akhirnya terbesit dalam pikiranku untuk segera merebahkan kepala dan tubuh yang lelah ini di atas bantal yang empuk dan akhirnya kuletakan kepalaku pada bantal tersebut, setelah 10 menit kurebahkan kepalaku pada bantal maka terlintas dalam pikiranku alangkah enaknya jika tidur sambil melihat TELEVISI jikalau ada informasi terbaru pada sesion acara BERITA, ternyata memang benar ada berita terbaru yaitu beberapa teroris ditangkap oleh Densus 88 di Solo, Madiun, Bogor dan Jakarta, setelah beberapa kali aku pindah Chanel TV maka berita terbaru atau NEWS-nya hanya tentang hal-hal tersebut.

Akhirnya kebosananku timbul setelah semua berita yang ditayangkan hanya menampilkan tentang teror dan teroris dan terorisme saja. Setelah kebosananku memuncak maka aku ganti chanel TV yang tidak menampilkan berita yang membosankan itu. Setelah berkali-kali kuganti akhirnya kutemukan saluran televisi yang menampilkan nuansa berbeda yaitu pengajian, akhirnya kuberalih ke chanel tersebut.

Setelah aku melihat dan mengikuti sampai pengajian yang di sampaikan oleh beberapa ustads di TV maka sampailah pada sesion dimana salah satu ustads (pemandu dzikir) memimpin melafadkan kalimat ”laa illah haa illallah” sehingga para jamaah juga menirukan kalimat tersebut dengan bersama-sama, setelah itu ustadnya juga melafadkan” ”laa illah haa illallah” sehingga para jamaah juga menirukan kalimat tersebut dengan bersama-sama. Peristiwa tersebut juga diteruskan dengan kalimat dzikir yang lainya.

Setelah beberapa ada yang aneh terbesit dipikiranku setelah menyaksikan peristiwa antara ustads dan jamaah tadi, sehingga timbul beberapa pertanyaan dalam hati dan pikiranku :
1. Apakah jika seseorang ingin mendapatkan pahala atas dasar sudah dan dapat berucap kalimat “laa illah haa illallah” harus dipimpim oleh seorang ustad (pemandu dzikir). Bagaimanakah kondisi jamaah yang ada di dalam pengajian tadi, jika hanya untuk berucap kalimat ”laa illah haa illallah”, mengapa harus memerlukan seorang ustad (pemandu dzikir) untuk berucap kalimat tersebut. Bukankah jika kita seorang manusia dewasa dengan tubuh dan anggota badan yang sempurna sangatlah mudah dan gampang jika hanya untuk berucap kalimat ”laa illah haa illallah” tanpa menggunakan pemandu dzikir. Apakah masyarakat muslim  indonesia masih minim kesadaran karena dzikir yang notabene mudah dilakukan  saja harus dipandu terlebih dahulu!, dimanakah kecerdasanya, dimanakah kesadaranya, setinggi itukah kwalitas keimananya, ……?”.

Berbeda jika dibandingkan dengan anak TK dimana untuk berucap satu kata saja maka memerlukan guru pemandu untuk berucap sehingga siswanya bisa menirukan. Padahal kita orang manusia dewasa seharusnya jika hanya untuk berucap dzikir saja maka itu merupakan perkara yang gampang dan mudah tetapi kenapa kita menggunakan pemandu dzikir jikalau perkaranya hanya untuk dzikir. Bukankah keutamaan berdzikir secara mandiri dan dzikir sendiri akan lebih banyak pahala jika dilihat dari sudut pandang banyaknya dzikir yang kita ucapkan juga jumlahnya juga bisa kita perbanyak. Bukankah berdzikir dalam hati itu juga sangat mudah dan pasti juga bisa kita lakukan jikalau kita masih bernyawa. Wahai kaum muslimin berdzikir itu merupakan perkara mudah dan gampang janganlah ditunda dan DIPERSULIT PENERAPANYA.

2. Motivasi apa yang membuat para jamaah tadi datang ke majelis ilmu tersebut:
a. Hanya ingin melihat lawan jenis, bagi mereka yang sorot matanya selalu tertuju pada lawan jenis.
b. Hanya ingin melihat ustad yang terkenal, bagi mereka yang pikiranya dan pandanganya hanya kagum pada kemewahan busana, ketampanan wajah dan kharisma sang ustads.
c. Cuma ingin punya kenangan dan kenang-kenangan, bagi mereka yang membawa hp sehingga pada saat pengajian selalu sibuk memfoto ustad dan dirinya sendiri sehingga foto tersebut. Mungkin foto tersebut bisa menjadi bukti jikalau pernah mengaji di tempat tersebut, sehingga peluang riya dan pamer sangat besar, apalagi pamer pada teman dan koleganya. Padahal seharusnya yang ditularkan pada orang lain adalah ILMU DARI HASIL MENGAJI dan bukannya foto yang disebar luaskan.
d. Hanya memamerkan keegoisan yang tinggi (bagi mereka yang selalu ngobrol dengan teman disampingnya padahal tubuh dan jiwa dia berada di tengah-tengah pengajian, padahal estetika mengaji adalah kita mendengarkan apa yang ustad ucapkan, kiat resapi dan kita ambil ilmunya.
e. Penurunan daya konsentrasi dan pemahaman, bagi mereka yang berubah tujuan awalnya yaitu mengaji berubah menjadi yang lainya, dimana ketika bertemu kawannya maka akan timbul perbincangan membahas gosip, fitnah dll terlebih perbuatan di luar tujuan awal yaitu mencari ilmu Allah. Ini terbukti ketika dibacakan ayat suci Al-Qur’an yang seharusnya mereka mendengarkan tetapi asyik mengobrol hal-hal yang tidak perlu.
f. Memang benar-benar mencari dan ingin mendapat ilmu ALLAH.

3. Apakah jika hanya untuk bisa berucap “laa illah haa illallah” kita harus sejauh itu menghadiri pengajian, apakah harus berpergian meninggalkan rumah kita sehingga menuju tempat untuk berdzikir, jikalau perkaranya cuma berdzikir, bukankah setiap saat setiap tempat kita bisa berucap kalimat tersebut, baik dirumah, di dapur , dimasjid dan dimana saja. Bukankah pada  setiap waktu, setiap saat kita bisa Berdzikir di tempat tersebut tanpa harus berpergian kemanapun.

Masih ingatkah kita tentang firman Allah yang artingya:

“Hai orang-orang yang beriman,berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.(Al-Ahzab:41-42).

Rasullulah juga bersabda :

“Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat:  “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung)”. (HR. Bukhari)

4. Apakah untuk mendapatkan pahala kita harus menunggu moment-moment tertentu supaya kita dapat pahala, ibarat menunggu bola datang atau menjemput bola dan mengejar bola (ibarat mencari dan mengejar terus pahala). Kita pilih menunggu atau mengejar pahala.

5. Bukankah manusia dewasa yang mengaku MUSLIM seharusnya TANPA DIPERINTAH  oleh pemandu dzikirpun-TANPA DIUNDANG untuk tahlilan pasca  peristiwa kematian seseorangpun- TANPA DISURUH ketika peristiwa (7 harian-1 bulanan-7 bulanan masa kehamilan) pun- TANPA MENUNGGU hari H’nya pun- TANPA DIBERITAHU oleh orang lainpun jikalau syariatnya adalah perintah untuk berdzikir maka seharusnya sudah dan sering sekaligus wajib kita melaksankan dzikir tersebut setiap saat dan setiap waktu, dikarenakan kita sudah sadar akan siapa hamba dan siapa itu ALLAH .

6. Apakah tipe orang dewasa yang ada di lingkungan khususnya sampel yang ditayangkan pada televisi tersebut bertipe melaksanakan sesuatu harus dikomando dulu oleh seorang ustad baru jamaahnya melaksanakan syariat dan bukannya melaksanakan syariat berdasarkan kesadaran diri. Manjakah Kita, Cuma dzikir saja harus di pandu?. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah semua ibadah kita mulai dari zakat, infaq, sodaqoh dll juga harus dipandu seperti panduan suara selalu memerlukan dirijen. Bukankah itu cukup memalukan sebagai muslim selalu dipandu, dipandu, dipandu. Kapankah kita mandiri, kapankah kesadaranya secara menyeluruh akan kewajiban kita.

Wahai kaum muslimin evaluasi diri dan berubah merupakan solusi  untuk meraih keridhoan di jalan ALLAH .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s