Bagaimana Cara Mengelola Kerumitan Hidup ?

Ass.wr.wb. Ustadz, saya ingin menanyakan tentang cara mengelola kerumitan hidup, karena banyak persoalan yang saya dapat dan membuat saya stres, terlebih jika kita mengalami kesempitan. Wss.wr.wb.

Jawab :

Al-Quran tidak cukup dibaca saja. Meskipun membaca saja memperoleh pahala, dihitung setiap hurufnya. Al-Quran akan menjadi penggugat kita di hadapan Allah SWT (hujjatu ‘alaina) manakala tidak diamalkan isinya. Membaca al-Quran harus dibarengi dengan memahami maknanya dan mengamalkannya dalam segala aspek kehidupan. Agar manusisa mempunyai berkualitas ketaqwaan secara lahir dan batin, mamapu membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, menjadimasyarakat yang diberkahi, negara yang aman,penuh dengan ampunan Tuhan, penuh dengan barokah  dan penuh dengan rahmat Allah.

Namun realitasnya kini, umat Islam banyak yang tidak mensyukuri nikmat dengan adanya Al-Quran. Kitab suci ini belum maksimal dijadikan pedoman hidup, pandangan hidup, terlebih landasan dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial dengan lingkungan. Padahal jika manusia menggunakan Al-Quran sebagai pedoman hidup maka allah akan menjamin bahagia dunia dan akhirat. Kandungan yang ada di dalam Al-Quran sudah terdapat contoh-contoh kehidupan bahkan resep, obat serta ilmu yang bias kita gunakan untuk untuk mengelola kerumitan kehidupan.  Tetapi banyak dari manusia dalam memahami Al-Quran hanya sekedar untuk dijadikan mantra, sehingga tidak berefek apa pun pada perubahan pola pikir, sudut pandang, orientasi dan perilaku kehidupan dalam skala Individu, keluarga, bangsa dan negara.

Yang lebih ironis, bahwa sebagian umat Islam memandang Al-Quran diturunkan untuk orang yang telah mati. Ketika hidup firman Allah SWT tersebut disimpan rapat-rapat di almari. Baru ketika meninggal, minta dibacakan orang lain. Sikap tersebut menggambarkan bahwa Al-Quran hanya dijadikan mantra yang bernuansa mistik, tidak dijadikan resep dan pedoman dalam mengelola pasang surut (fluktuasi) kehidupan di dunia ini.

Perlakuan kita terhadap Al-Quran ini, mungkin menyebabkan krisis multidimensional yang bersifat krisis mikro, krisis global, bahkan krisis moral dan intelektual. Firman allah:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?” (QS. Thaha (20) : 124).

Maksud kehidupan yang sempit, adalah kehidupan yang didera/dibelit dengan berbagai persoalan dan tidak menemukan jalan keluarnya. Atau kehidupan yang serba cukup, dengan tersedianya makanan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi semua yang dimilikinya itu justru membuat lubang kehancurannya (istidraj). Sehingga dia tidak bisa memaknai dan menikmatinya.

Kiat Sukses Berinteraksi dengan Al-Quran

Untuk mengembalikan kita pada pola interaksi yang benar terhadap Al-Quran, sehingga Al-Quran kembali menjadi sumber kekuatan kita untuk membangun peradaban (iman dan islam), kiat-kiat berikut ini sangat perlu diwujudkan.

Pertama: Tilawah wa Tartil (selalu membaca dengan benar)

Dengan membaca al-Quran secara berkesinambungan akan menambah iman kepada Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [sempurna ] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal (8) : 2).

Mendatangkan petunjuk, menjadi obat berbagai penyakit di dalam dada, serta rahmat dan nasihat.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus (10) : 57).

Suka membaca indikator mutu keimanan seseorang.

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[tidak merubah dan mentakwilkan sesuka hatinya], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Baqarah (2) : 121).

Membaca secara tekun menambah kebaikan yang banyak, baik dalam keadaan miskin ataupun kaya.

“Dan Ini (Al-Quran) adalah Kitab yang telah kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” (QS. Al Anam (6) : 92).

Membaca secara tartil akan mendatangkan perkataan yang berbobot, melepaskan manusia dari belenggu kesesatan, mencerahkan pikiran dan hati yang kalut serta merasakan kegembiraan dalam mengelola pasang surut (fluktuasi) kehidupan.

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al Muzzammil (73) : 5).

Kedua: Tadabbur (merenungkan isinya)

Mentadabburi Al-Quran bisa membuka hati untuk menerima petunjuk Allah SWT  dan memperoleh pelajaran yang sangat berharga.

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS.Shad (38) : 29).

Ketiga: Hifz (menghafalkan)

Al-Quran mudah dihafalkan sekalipun yang melakukannya bukan orang Arab (‘ajam), karena kata-katanya, huruf-hurufnya, susunan kalimatnya, uslub (gaya bahasanya) sesuai dengan fithrah manusia.

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (QS. Al Qamar (54) : 17, 22, 23, 40).

Biasanya, sulit menghafalkan Al-Quran karena banyak melakukan dosa.

Imam Syafii mengadu kepada guruku Waki’, atas kejelekan hafalan al-Qurannya. “Maka ia membimbingku agar meninggalkan masiat. Karena ilmu itu cahaya, cahaya Allah tiada akan diberikan kepada yang berdosa, ” ujar Imam Syafii.

Penghafal Al-Quran terhindar dari kepikunan, setelah meninggal jasadnya diharamkan oleh Allah SWT untuk dilukai bumi.
Hafalan Al-Quran akan mengembangkan saraf otak (penelitian di Universitas Munich, Jerman).

Keempat: Ta’lim (mengajarkannya kepada orang lain)

Generasi yang dekat dengan Allah SWT adalah yang tidak berhenti belajar dan mengajarkan Al-Quran

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah SWT], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran 3) : 79 )

Kelima: Istima’ (selalu mendengarkannya secara berkesinambungan)

Yang senang mendengarkan Al-Quran adalah manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al-Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” katakanlah: “sesungguhnya aku Hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al-Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al Araf (7) : 203).

Allah SWT memberi satu mulut dan dua telinga adalah untuk mendidik manusia supaya sedikit bicara (hemat kata) dan banyak mendengar (perkataan ahli hikmah).  Kualitas kepemimpinan seseorang diukur tidak dari banyaknya meriwayatkan, tetapi banyak melayani yang dipimpin dan mendengarkan aspirasinya. Orang yang tidak senang mendengarkan Al-Quran cenderung menutup diri, sehingga dijauhkan dari petunjuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s