Iman Kepada Allah

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan dasar-dasar keimanan yang terangkum dalam enam hal yang dikenal dengan rukun Iman,  ketika beliau ditanya oleh Jibril tentang iman. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir dan takdir seluruhnya yang baik dan buruk. (HR. Bukhari & Muslim) Iman kepada Allah mencakup beberapa hal : [1] Iman kepada keberadaan Allah, [2] Iman kepada rububiyah-Nya, [3] Iman kepada uluhiyah-Nya, [4] Iman kepada Nama dan Sifat-Nya. Iman kepada Keberadaan Allah Setiap mukmin harus mengimani keberadaan Allah. Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah atau ragu-ragu atas keberadaan-Nya atau pun memiliki kebimbangan walaupun sedikit maka ia bukan lagi seorang mukmin.

Tetapi ia adalah seorang mulhid (atheis) dan bukan termasuk orang-orang yang dianugerahi oleh Allah keimanan dan hidayah. Keimanan seseorang terhadap eksistensi (keberadaan) Allah haruslah berupa keimanan yang tidak ada keraguan sedikit pun, sebagaimana ia telah meyakini eksistensi dirinya sendiri, bahkan lebih dari itu. Keberadaan Allah ini telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera, dan ditetapkan pula oleh dalil syar’i.

Akal kita bisa berfikir bahwa tidaklah seluruh makhluk dulu maupun sekarang kecuali pasti ada yang menciptakan. Mustahil mereka menciptakan diri sendiri karena sebelumnya tidak ada, dan yang tidak ada tidak bisa mencipta. Secara fitrah, manusia telah mengakui adanya Allah.

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang artinya,“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami), kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf [7]: 172-173).

Dari segi dalil syar’i, seluruh kitab samawi yang diturunkan pasti berbicara tentang adanya Allah dan berbagai peristiwa yang disaksikan kebenarannya. Ini menunjukkan kitab-kitab tersebut berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sedangkan indera kita lebih mudah untuk membuktikannya di antaranya ialah terkabulnya doa, mukjizat pada Nabi yang diluar kemampuan manusia. Ini tidaklah mungkin berasal kecuali dari Tuhan yang mengutus mereka. Yaitu beriman bahwa Allah sajalah yang sebagai Rabb yaitu mengesakan Allah dalam penciptaan-Nya, pemilikan-Nya dan pengaturan-Nya.

Pertama, meyakini bahwa tidak ada pencipta kecuali Allah. Ayat yang menunjukkan demikian adalah firman Allah Ta’ala yang artinya,”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.(QS. Al A’raf [7]: 54).

Kedua, meyakini bahwa tidak ada yang menguasai makhluk kecuali pencipta-Nya yaitu Allah Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi.(QS. Ali Imran [3]: 189).

Ketiga, meyakini bahwa tidak ada mengatur alam semesta ini kecuali Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya.(QS. Yunus [10]: 31-32)

Perlu diketahui Bentuk keimanan seperti ini yaitu keimanan kepada rububiyah Allah- tidaklah ditentang (diingkari) oleh orang-orang musyrik bahkan mereka mengikrarkan keimanan seperti ini. Mereka tidak meyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan (seperti Nabi, orang sakti, Syaikh Abdul Qadir Jailani, para wali dan ulama) mampu menciptakan atau mengatur alam semesta. Yang mereka yakini sebagai pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta ini hanyalah Allah semata. Lihatlah firman Allah yang artinya,“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”(QS. Az Zukhruf [43]: 9).

Dan firman Allah yang artinya,”Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah” (QS. Az Zukhruf [43]: 87). Orang-orang musyrik dahulu meyakini Allah-lah pengatur segala sesuatu. Di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi.

Mengenai keyakinan rububiyah ini, tidak ada satu orang pun dari keturunan Adam yang mengingkarinya kecuali Fir’aun yang mengatakan,”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.(QS. An Nazi’at [79]: 24) dan kaum Majusi yang menyatakan di alam ini ada dua pencipta yaitu kegelapan dan cahaya (di mana kegelapan adalah pencipta kejelekan, sedangkan cahaya adalah pencipta kebaikan). Jadi, keimanan seperti ini diikrarkan pula oleh orang musyrik, namun tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Mereka harus mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata sebagaimana ditunjukkan dalam keimanan yang ketiga berikut.

Iman kepada Uluhiyah Allah

Yaitu meyakini bahwa hanya Allah saja yang berhak diibadahi. Bentuk keimanan seperti ini adalah dengan mengesakan segala bentuk peribadatan kepada Allah Ta’ala, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk kedzaliman yang paling besar di sisi-Nya yang disebut dengan SYIRIK. Dan dalil yang menunjukkan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata di antaranya firman Allah yang artinya,“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa [4]: 36)

Contoh penyimpangan dalam bentuk keimanan seperti ini di antaranya ketika seseorang mengalami musibah (seperti terlilit hutang) di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau dukun, orang pinter atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Di sana ia meminta kepada wali, dukun, atau penghuni tempat keramat tadi agar bisa dilepaskan dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya tersebut. Ia pun mempersembahkan sesembelihan dan persembahan bahkan bernadzar (berjanji) untuk beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah. Maka bentuk ibadah yang dilakukan oleh orang ini termasuk kesyirikan (bahkan syirik akbar yang mengeluarkannya dari Islam dan dosanya tidak akan diampuni oleh allah) karena dia telah memalingkan suatu ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah, dia tujukan kepada selain.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.(QS. Al Mu’minun [23]: 117)

Iman kepada Nama dan Sifat Allah Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana telah ditetapkan Allah di dalam Al Quran atau telah ditetapkan oleh rasul-Nya di dalam As Sunnah, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah, tanpa tahrif (memalingkan makna dari makna yang semestinya), ta’thil (menolak nama atau sifat Allah), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Allah berfirman yang artinya, “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al A’raaf [7]: 180).

Misalnya tatkala datang ayat sifat, ”(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy(QS. Thahaa [20]: 5). Maka seseorang harus menerimanya dengan menyatakan bahwa Allah berada di atas ’Arsy dan tidak menolaknya dengan menyatakan Allah berada di mana-mana. Demikianlah para pembaca sekalian, keimanan kita kepada Allah haruslah memuat seluruh empat hal di atas, tidak hanya satu atau dua saja. Sehingga kita katakan bahwa keyakinan seseorang bahwa Allah itu ada ataukah Allah itu satu-satunya pencipta belum cukup untuk dikatakan telah beriman kepada Allah, namun juga harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan beriman kepada nama dan sifat Allah. (Sebagian pembahasan di atas dapat dilihat di kitab Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Al Utsaimin)

Wallohu a’lam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s