Iman Kepada Kitabullah

Kaum muslimin rahimakumullah, di antara akidah yang wajib untuk diyakini oleh seorang muslim adalah beriman kepada kitab-kitab yang telah Allah turunkan pada Rasul-Nya. Bahkan, keimanan kepada kitab ini merupakan salah satu di antara rukun iman yang jika seorang mengingkari salah satu rukun iman tersebut, maka dia telah keluar dari agama Islam. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana seharusnya kita beriman kepada Kitabullah. Keterangan Allah dan Rasul-Nya Kewajiban seorang muslim untuk beriman kepada Kitabullah, merupakan perintah langsung secara tegas dalam ayat Al Quran. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa [4] : 136). Bahkan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Malaikat Jibril mengenai apa itu Iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, utusan-Nya, kitab-Nya, pada hari kemudian dan engkau beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk” (HR Muslim). Makna Iman Kepada Kitabullah Kaum muslimin rahimakumullah, makna beriman kepada Kitabullah yaitu beriman pada seluruh kitab yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya sebagai rahmat bagi makhluk-Nya dan sebagai petunjuk dan hidayah pada-Nya agar mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat (Syaikh Ibnu Utsaimin, Syarah Ushul Iman). Seorang yang beriman dengan Kitabullah wajib beriman pada 4 perkara yang menjadi konsekuensi keimanannya tersebut. Pertama, ia beriman bahwa kitab-kitab yang Allah turunkan tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kitab-kitab tersebut adalah kitab yang berisi wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul yang dikehendaki-Nya. Kitab-kitab tersebut bukanlah sekedar hasil buah pemikiran dari para Rasul sebagaimana didengung-dengungkan oleh para orientalis yang tidak lain bertujuan untuk menimbulkan keraguan di kalangan umat Islam terhadap Al Quran yang pada akhirnya menyeret kaum muslimin pada jurang kekafiran. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud” (QS. An Nisaa [4] : 163) Kedua, beriman kepada sebagian kitab yang Allah telah memberitahukan kita dalam Al Qur’an tentang nama-namanya seperti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud ‘alaihimushsholatu wassalam. Adapun kitab-kitab lainnya yang diturunkan pada para Rasul yang lain yang tidak kita ketahui nama-namanya karena tidak adanya penjelasan hal tersebut dalam Al Quran maupun As Sunnah, maka kita wajib untuk beriman pada kitab-kitab tersebut secara global yaitu kita beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab tersebut pada hamba-hambaNya yang dikehendakinya. Ketiga, membenarkan berita dan informasi yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut seperti informasi yang disampaikan oleh Al Quran mengenai segala sesuatu yang terjadi ketika hari kiamat. Maupun informasi mengenai kejadian-kejadian yang terjadi ketika zaman para nabi seperti kisah pemuda Ashabul Kahfi, kisah Nabi Musa dan lain sebagainya. Kita juga wajib beriman dengan berita dan informasi yang disampaikan oleh kitab-kitab sebelum Al Quran yang belum mengalami perubahan dan penyelewengan oleh tangan manusia. Keempat, mengamalkan, ridha dan tunduk pada hukum dan syariat yang telah diatur di dalam kitab-kitab yang telah Allah turunkan selama hukum tersebut belum di hapus. Dalam hal ini Al Qur’an menjadi kitab terakhir yang Allah turunkan dan menyempurnakan hukum-hukum yang diturunkan pada kitab sebelumnya Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran dengan kebenaran dan membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain” (QS. Al Maaidah [5] : 48). Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan untuk mengamalkan syariat pada kitab yang diturunkan sebelum Al Quran kecuali syariat tersebut juga telah ditegaskan di dalam Al Quran maupun As Sunnah. Seorang yang beriman kepada Kitabullah wajib mengamalkan syariat yang terdapat di dalamnya baik dia mengetahui atau pun tidak mengetahui hikmah disyariatkannya amalan tersebut. Keyakinan Seorang Muslim Mengenai Al Quran Kaum muslimin rahimakumullah, sebagai seorang muslim, beberapa hal yang perlu kita pahami adalah mengenai Iman kepada Al Quran adalah sebagai berikut: Pertama, Al Quran adalah Kalamullah (perkataan Allah) berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalamullah” (QS. At Taubah [9] : 6). Kedua, Al Quran diturunkan oleh Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia” (QS. Al Baqarah [2] : 185) kemudian firman Allah ta’ala “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran pada malam Lailatul Qadr” (QS Al Qadr [97] : 1).
Ketiga, Al Quran bukan makhluk berdasarkan firman Allah ta’ala “Ketahuilah hanya hak Allah lah mencipta dan memerintah” (QS. Al A’raaf [7] : 54). Pada ayat tersebut, Allah ta’ala membedakan antara perintah dan ciptaan. Adapun Al Quran termasuk dalam perintah Allah ta’ala berdasarkan firman Allah yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami” (QS. Asy Syura [42] : 52). Karena Al Quran merupakan perintah Allah, maka Al Quran bukanlah makhluk. Keempat, Al Quran berasal dari Allah ta’ala karena Allah lah yang pertama kali memfirmankan Al Quran walaupun setelah-Nya Al Quran diucapkan oleh makhluk-makhlukNya. Hal ini dikarenakan sebuah perkataan adalah milik yang pertama kali mengucapkannya. Kelima, Al Quran akan kembali pada Allah. Makna yang pertama dari pernyataan ini adalah sebagaimana dalam sebuah hadits yang menyebutkan bahwa pada akhir zaman, Al Quran akan diangkat dalam satu malam sehingga pada pagi harinya, manusia sudah tidak dapat menjumpai Al Quran lagi baik tulisan yang terdapat pada lembaran-lembaran Al Quran maupun Al Quran yang dihafal di dada manusia. Allah telah mengangkat Al Quran ke sisi-Nya. (HR Ibnu Majah. Al Hakim, Adz Dzahabi dan Al Albani mengatakan Sahih sesuai syarat Imam Muslim). Makna kedua yaitu bahwasanya seluruh isi Al Quran hanya boleh disandarkan kepada Allah ta’ala sehingga tidak diperbolehkan ada seorang pun yang disebut memfirmankan Al Quran selain Allah ta’ala seperti menyebutkan bahwa si Fulan berfirman, kemudian disebutkan ayat Al Quran yang menceritakan perkataan si Fulan tersebut. Demikianlah lima hal yang perlu diketahui dan diyakini oleh kaum Muslimin mengenai Al Quran. Al Quran adalah Kalamullah yang diturunkan oleh Allah. Al Quran bukanlah makhluk, ia berasal dari Allah ta’ala dan akan kembali kepada-Nya. (Syarah Aqidah Wasthiyyah, Syaikh Ibnu Utsaimin). Buah Keimanan Pada Kitabullah Kaum muslimin rahimakumullah, pada diri seorang yang beriman kepada Kitabullah, akan nampak buah yang sangat mengagumkan. Di antara buah keimanan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, dia akan mengetahui tentang kepastian pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya ketika Allah menurunkan sebuah kitab kepada setiap umat yang menjadi pedoman dalam segala bidang kehidupan mereka. Kedua, dia akan mengetahui betapa syariat Allah adalah syariat yang penuh hikmah ketika Allah mensyariatkan kepada setiap kaum dengan syariat yang sesuai keadaan mereka. Sebagai contoh adalah syariat shalat yang Allah wajibkan kepada kaum muslimin untuk shalat hanya 5 waktu dalam sehari semalam, bukan 50 waktu. Kemudian syariat puasa yang telah Allah syariatkan pada umat ini dengan sahur sedangkan pada syariat umat sebelumnya, tidak dikenal adanya sahur sehingga ketika tiba waktu buka kemudian mereka tertidur setelah makan, maka mereka dengan sertamerta saat itu juga wajib untuk berpuasa kembali. Ketiga, dia akan selalu bersyukur kepada Allah ta’ala atas kesempurnaan pertolongan-Nya pada para hamba-Nya serta kesempurnaan hikmah pada syariat-Nya. Rasa syukur ini akan membuatnya senantiasa menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-Nya.
Kaum muslimin rahimakumullah, demikianlah sedikit pembahasan kami mengenai Rukun Iman ketiga yaitu beriman kepada Kitabullah. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mau mentadabburi Al Quran, memahami maknanya dan mengamalkan isi dan kandungannya, Amiin ya Mujibbassaailiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s