Tauhid dari meja makan

Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan ke-ESA-an Allah. Mengamalkan tauhid sejak dari anak kecil merupakan kewajiban seorang bapak, bahkan orang tua seharusnya wajib menerapkan hadist ini sebelum makan. Sebagai muslim  bagaimana mengamalkan tauhid dari meja makan, berikut bahasanya.
Masih ingatkah kita tentang hukum atau adab-adab makan dan minum dengan tangan kanan yang telah Allah turunkan hukumnya melalui nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa Haditsnya sebagai berikut :

Dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiallahu anhu dia berkata: Dulu aku adalah anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan, tanganku berpindah-pindah kesana kemari di atas piring. Maka beliau bersabda kepadaku:

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Hadist di atas harus diterapkan kepada anak kita pada saat makan, dan hukumnya wajib, mengapa kita harus mewajibkan menyampaikan hadist tersebut kepada anak dan istri kita sebelum makan, berikut alasanya :
Alasan pertama adalah mengajarkan Tauhid pada anak , istri  serta keluarga kita. Dengan  menyampaikan saja kita sudah mendapatkan pahala yang banyak, apalagi melakukan perintah di dalamnya maka allah akan melipatgandakan pahala kita.
jika kita seorang bapak menyampaikan pada saat akan makan, maka sebenarnya kita  sudah mengajarkan tauhid pada anak kita, caranya adalah dengan di awali dengan :
1. Memanggil anaknya dengan lemah lembut  (يَا غُلاَمُ / ya gulam ) atau panggilan kesayangan bapak kepada anaknya, misalkan “wahai sayangku” , “wahai anaku sayang “, dll. Panggilan lemah lembut ini merupakan bentuk kasih sayang bapak kepada salah satu keluarganya sehingga anggota keluarganya mendengarkan, memerhatikan, mematuhi apa yang di ucapkan oleh bapaknya.
2. Dilanjutkan dengan dengan kata-kata ” sebutlah nama allah” ( سَمِّ اللهَ / sami laha).  Perintah atau ajakan untuk menyebutkan nama Allah  merupakan perintah/ajakan  dari seorang bapak agar anak dan anggota keluarga mengenal tentang Allah, pembiasaan untuk mengenal  tentang Allah serta mentauhidkan Allah dimulai dari hal kecil bahkan sebelum makan saja harus mentauhidkan Allah.
Ketika kita menyuruh anak untuk menyebut nama Allah, maka kemungkinan anak juga bertanya , ” apa itu Allah, siapa itu Allah, dll “, maka dari pertanyaana anak itulah baru kita bisa menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan nya manusia, Tuhan yang Maha Memberi, dll.  Dari peristiwa inilah maka kiat bisa menjelaskan segala sesuatu mengenai Allah, minimal pengenalan Allah atau mengenai syariah dalam beragama ( sariah yang boleh dan tidak boleh) kepada anak kita.
Maka sebelum makan seorang bapak di wajibkan mengajarkan tauhid kepada anaknya dengan menyampaikan hadist ini sebelum makan.
Sudahkah kita sebelum makan bersama anak dan keluarga kita menerapkan hadist ini, seharusnya di setiap akan makan kita menyebutkan hadist ini karena di dalamnya ternyata mengandung ketauhidan kepada Allah.
Alasan kedua adalah mengajarkan mana sifat baik dan mana sifat buruk Syaitan,
Dalam hadist di atas juga mengajarkan mana sifat baik dan mana sifat buruk dari syetan, maka seorang bapak haur mengajak anaknya dengan  :
1. Ajarkanlah dan ajaklah jika  Makan harus menggunakan tangan kanan. seorang bapak harus mengajak anaknya dengan kata-kata    ( وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ / wa kul biyaminika ) atau “ makanlah dengan tangan kananmu”. Kenapa seorang bapak harus mengajak makan menggunakan tangan kanan dan bukan tangan kiri,  karena  sifat muslim sejati serta identitas islam sejati di wajibkan melakukan perbuatan yang baik-baik dan bukan perbuatan buruk-buruk yang dilarang Allah.
Dalam hadist lain juga diterangkan kenapa kita dilarang makan dengan tangan kiri, karena itu termasuk perbuatan syetan. Syetan merupakan makluk yang  melakukan perbuatan buruk sedangkan manusia diharapkan bersifat baik dan bukan buruk seperti syetan.  sehingga jika kita islam maka dilarang meniru perbuatan syetan.
Begitulah Islam mengatur hidup kita hingga urusan kecil pun ada aturannya dan itu wajib kita jalankan sebagaimana Allah dan Rasullnya mewajibkan .
Alasan ketiga adalah mengajarkan kesederhanaan dalam berbuat.
Kesederhanaan merupakan tindakan yang tidak berlebih-lebihan , adanya perasaan puas dan cukup terhadap “apa yang dibutuhkan”, bukan “apa yang diinginkan”.
Seorang bapak harus melarang anaknya berbuat berlebih-lebihan, maka ucapkan kata-kata  ( وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ / wa kul mimma yalika ), “makanlah yang ada di dekatmu“,
Pesan moral lainya secara umum tentang larangan anaknya untuk makan  berpindah-pindah kesana kemari di atas piring adalah untuk mengajarkan bahwa jangan makan secara tidak karuan dan hura-hura, alias makanlah  cukup dengan makanan yang ada di depanmu, alias jangan makan makanan orang lain, alias jangan serakah terhadap makanan orang lain, alias berprilaku sopanlah. itu semua  merupakan pesan moral yang ada di dalam kata-kata “makanlah yang ada di dekatmu”,
Pesan moral secara umum lainya adalah hiduplah sederhana, jangan makan makanan orang lain, jangan iri dengan makanan orang lain, bahkan jangan iri terhadap apa yang di punyai orang lain, jangan serakah terhadap harta orang lain.  inti pesan moral dari kata-kata “makanlah yang ada di dekatmu”,  adalah hiduplah sederhana.
Maka setiap orang tua harus wajib hafal hadist ini karena didalamnya mengandung kasih sayang – ketauhidan – sifat baik – kesederhanaan.  Semoga dengan hafal hadist ini kita dapat menyampaikan kepada keluarga kita sehingga terbentuklah  keluarga yang selalu bertauhid kepada Allah setiap saat bahkan setiap akan makan. Amiin